Archive for March, 2007

Sekolah dan Penyedap Rasa…

Wednesday, March 28th, 2007

Saat ini banyak sekolah-sekolah impor bermunculan, mulai dari Baby Playgroup sampai program Doktoral di Universitas. Sekolah ini datang bagai penyelamat dunia yang terbelakang, membuat masa depan sebuah negeri jadi lebih cerah. Sekolah playgroup sampai tingkat sekolah dasar (SD) di negeri asalnya dilarang, karena pendidikan sejak playgroup sampai tingkat SMP or SMU hanya negara yang dapat mengelolanya.

Sekolah-sekolah yang menjanjikan para lulusan cum laude berharga selangit, bahkan tidak mungkin dijangkau para masyarakat kecil–biasanya mereka membuat sekolah-sekolah informal ditempat-tempat seadanya–yang tidak "terjangkau" kebijakan negara dalam program pendidikan gratis dan wajib belajar. Pemerintah lebih senang mengurusi masalah politik ketimbang mempersiapkan generasi bangsa yang pintar dan cerdas.

Banyak orangtua dari kalangan the haves lebih senang menyekolahkan anaknya kesekolah-sekolah impor, bahkan sampai harus memaksakan diri.

Sadar atau tidak, interaksi anak di sekolah tidak sebesar di rumah. Anak lebih banyak belajar dari rumahnya, anak dalam hatinya menuntut orangtua untuk mengajarinya banyak hal. Sekolah adalah tempat pengembangan belajar dari rumahnya. Anak yang tidak pernah belajar dirumah, hampir dapat dipastikan tidak akan terlalu pandai dan cerdas di sekolah.

Saya memiliki teman-teman sekolah dan kuliah yang selalu mengeluh, "koq gue jadi ngblank gini yaa sama dosen ini", "koq gue bego amat gak bisa soalan kayak gini", ‘waduh kayaknya makin berat nih pelajarannya". Sikap-sikap ini asalnya adalah mereka malas belajar dari rumah, sekolah menuntut siswa dan mahasiswanya untuk bisa menalar dan mengembangkan materi yang ada dalam bukunya.

Anak yang belajar di rumah adalah masakan yang membutuhkan penyedap rasa dari sekolah, jadikan anak-anak kita sebagai masakan yang sedap dan siap untuk dihidangkan pada masa yang akan datang.

Kesadaran…

Wednesday, March 28th, 2007

Manusia memiliki 2 (dua) macam kesadaran dalam hidupnya, dan kesadaran itu memiliki logikanya sendiri-sendiri.

Pertama: Kesadaran Keterciptaan. Kesadaran ini berangkat dari klaim Tuhan, "tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku", "Tiada kekuatan lain selain Aku". Artinya, manusia selalu mengembalikan setiap kejadian di dunia ii sebagai kehendak Tuhan sang Pemilik Alasan. Kesadaran ini berimplikasi pada sikap Tawadhu, Beriman (bertaqwa), dan apatis. Mengapa Tuhan membuat saya menjadikan saya hanya seperti ini. Mengapa Tuhan menciptakan Iblis hanya untuk menggoda nafsu saya.

Kedua: Kesadaran Eksistensi. Kesadaran ini sepenuhnya  mempertanyakan kenapa saya hidup begini dan di tengah-tengah keadaan yang seperti ini. Dasarnya adalah: "Aku tidak akan merubah nasib suatu kaum kalau mereka tidak mau mengubah dengan tangannya sendiri", "Segala kebaikan akan mengembalikan kebaikan, begitu juga dengan keburukan". Sikap ini berimplikasi pada sikap: Rasional, Logis dan kadanng-kadang menantang Tuhan.

Rasionalitas adalah bekal hidupnya, selalu mencari jawaban paling logis menurut kesadaran ini. Berbeda dengan kesadaran yang pertama, sikap pasrah dan rendah hati adalah bekal hidupnya. Kedua kesadaran ini sejenak saling menegasikan. Pada akhirnya setiap orang berpikir dalam 2 (dua) frame, menurut kehendak Ilahiah dan Alamiah.